“Ada kejadian luar biasa saat KBM tadi,” demikian laporan Ust. Yuli saat laporan evaluasi pasca-KBM harian.
“Kejadian itu justru tepat saat bel akhir pelajaran berbunyi, di mulai dari bercanda hingga … ” sambung beliau.
Beliau yang mengajar di kelas VIII untuk pelajaran IPS hari Sabtu ini menceritakan kejadian dua siswa yang berantem : Anto dan Jacky (tentu bukan nama sebenarnya). Laporan ini tentu membuatku terkejut, betapa tidak, dua anak itu justru terlihat sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun asrama. Meskipun sama-sama kelas VIII tapi karena postur tubuh yang berbeda jauh justru membuatnya seperti kakak-beradik, hampir selalu bersama-sama dalam kegiatan.
Telah ada penanganan tingkat 1 oleh guru yang bersangkutan. Meskipun dihadapan Ust Yuli keduanya telah saling memaafkan namun tentunya dalam kenyataan perlu proses, tinggal pemantauan saya untuk perkembangan berikutnya.
Setelah dzuhur masih ada satu sesi pelajaran yang saya harapkan keduanya bisa mengikutinya. Namun ketika saya cek di ruang kelas, dari kedua anak tersebut hanya Jacky yang mengikuti pelajaran meski dengan mata yang masih sembab, sementara Anto tidak ada di kelas. Observasi selanjutnya yang harus saya tempuh adalah mengecek di asrama sekolah.
Hanya mengangguk atau menggeleng ketika menjawab pertanyaan ringanku : sudah makan belum? Kamu sakit? dsb. Masih dalam posisi terbaring dan dalam tangis yang dalam bahasa Jawa ‘seg-segen’ (huruf ‘e’ dibaca seperti dalam kata ‘serem’) artinya tangis yang melibatkan emosi, bukan fisik : seperti sakit ataupun terluka. Tentu bukan waktu yang tepat langsung membicarakan masalah ini dengan Anto, maka menstabilkan emosi adalah langkah awal. Hanya dengan segelas Aqua (mereknya sih lain), senjata khas konselor saya gunakan hingga akhirnya dia mau menjawab dengan sepatah dua patah kata.
Dua karakter yang berbeda jauh antara Anto dan Jacky tentu memerlukan treatment yang berbeda pula. Anto adalah anak terakhir, tak pernah punya masalah dengan teman, cukup pendiam, cerdas dalam matematika-sains-hafalan Qur’an. Sementara itu Jacky adalah teman akarabnya yang berasal dari pulau Sumbawa yang memang sering menghadap kepala Asrama karena ada masalah dengan teman, kesulitan dalam menghafal Qur’an dan pelajaran matematika-sains. Dari perbedaan sifat ini menjadikan perbedaan di antara berdua dalam menghadapi masalah. Anto akhirnya mau bicara bahwa ini adalah ‘berantem’ yang pertama kali dan dia sangat merasa bersalah namun juga khawatir terhadap sanksi yang akan diberikan oleh sekolah ditambah lagi perasaan malu karena diketahui oleh teman-temannya yang tentu ‘menjatuhkan’ reputasinya sebagai anak yang bersih dari masalah selama ini. Jacky lebih santai menghadapi masalah ini karena sudah menjadi hal yang ‘biasa’ sehingga langsung bisa masuk kelas.
Butuh waktu seharian penuh untuk mengembalikan kestabilan emosi Anto yang hingga maghrib pun masih tidak mau ke masjid dan memilih untuk tiduran, bukan di kamar bersama teman-teman sekelasnya namun di kamar kakak kelasnya. Namun sudah ada perkembangan yaitu mulai bicara dan mengungkapkan perasaannya meski masih sepatah-sepatah dan harus dipancing dengan pertanyaan dulu. Target malam ini adalah memberikan afirmasi kepadanya bahwa ia harus bisa berbicara dengan teman sekelasnya dengan memberikan rasionalisasi akibat lain jika masih bertahan dalam posisi seperti ini. Maka langkah yang harus ia tempuh adalah berani untuk kembali ke kamarnya sendiri bergabung bersama teman-temannya.
Di lain sisi, Jacky saya libatkan untuk bisa mulai berkomunikasi dengan Anto, mulai dari hal kecil dan sepele namun menjadi pembuka pembicaraan. Momen waktu makan malam menjadi tema yang tepat untuk memulai pembicaraan antara Jacky dengan Anto dengan menawarkan apakah mau diambilkan makan malam. Luar biasa … Anto mulai mau bercakap-cakap sedikit dengan Jacky sampai akhirnya Anto bernai untuk minta tolong diambilkan air minum.
Kadang kalai berantem itu perlu dialami oleh anak-anak dalam rangka pembelajaran bagi dirinya dalam bersosialisasi dengan lingkungannya, yang tak selamanya sesuai dengan apa yang diinginkan.

(Ilustrasi, sumber : http://gama88.files.wordpress.com/2010/08/berantem.jpg)





Di sekolah saya! Ada guru Fisika yag brengsek!
Bayangkan! Saya diberi tugas khusus! Lalu saya kumpulkan tapi nitip temen sekalian.
Gak diterima! Katanya pulang sekolah aja ok. pulang sekolah saya datang. Udah tau pulang pulang sibuk eh tuh guru gak ada! ok kasih lah. nah besoknya.. Kebetulan paginya masuk kelas jam 7. Saya tidak sempat mengumpulkan tugasnya. Istirahat 1. Kebetulan ada misa di gereja ( saya agama kristen)
saya makan terus udah disuruh berangkat. gak sempet ngumpulin lagi.. Istirahat ke-2. GAk sempet lagi.
guru mau konsultasi ama temen. gak bisa kumpul.
Nah pulang skola mau kumpul. Dianya marah?! bilang gini.. Kamu itu baru kumpul sekarang saya udah mondar mandir tadi(logat kata brengsek) teman saya datang minta ulangan. Gurunya kan ngomel k gw yaudah. Dipikir gak diterima ok! gw udah mau pulang udah kesel stengah mati. Eh dipanggil ama tuh guru bajingan. diceramahin. ok akhirnya dia suru kumpul.(pulang jadi telat banget) Udah mau kumpul dia bilang”SOALNYA MANA?” kan udah 1 hari udh disimpen dong kertasnya dirumah. dia juga suruh kerjain di kertas lain. eh ngomel lagi bilang( kamu tuh mau apa sih?!) setan bener tuh gru! Pengen dah gw bunuh! Gak pantes guru gitu keluarin aja! kata temen temen “mati aja lo k laut” gitu! saya KESEL banget dendam banget!