Assalamu'alaikum,
SUPER FRIENDS ... --

Aku ingin punya Sekolah SUPER!!! Di mana aku bisa belajar dengan para GURU HEBAT : mereka yang memberiku INSPIRASI, dan kelasku pun NYAMAN : yang memberikan ruang bagiku untuk BERKREASI
Selamat datang di Sekolah Super, sebuah sekolah yang menjadi mimpi untuk para guru, siswa dan orang tua. Di sini kita akan berbagi pengalaman, bagaimana agar sekolah kita menjadi SEKOLAH SUPER, sebuah sekolah tempat para siswa berkesempatan belajar dengan GURU HEBAT : yaitu guru yang mampu memberikan INSPIRASI. SEKOLAH SUPER juga menyediakan KELAS yang NYAMAN : sebagai ruang bagi para siswa untuk BERKREASI.

Guru kreatif, inspiratif dan inovatif adalah guru hebat yang mengelola kelas menjadi ruang yang nyaman bagi siswa untuk mengungkapkan kreasi dan ekspresi. Siswa berkepribadian mulia, berpikir kreatif dan berimajinasi luas adalah siswa cemerlang yang siap menghadapi masa depan. Guru hebat bersama siswa cemerlang adalah syarat untuk menjadikan sekolah anda menjadi SEKOLAH SUPER!. Dapatkan tips-tips menarik dari catatan pengalaman penulis di sekolah super agar Anda menjadi guru hebat dan menjadikan siswa Anda adalah siswa cemerlang.

Terima kasih saya persembahkan untuk Bunda tercinta - guru terbaik sepanjang hidupku -, ayah, rekan-rekan di Kafila International Islamic School, anak-anakku yang SUPER - terutama ke-12 sobat kecilku yang tangguh, yang telah memberikan banyak inspirasi kepadaku. Dan aku tuliskan perjalanku bersama kalian semua dalam blog ini.

Anak-anakku yang Allah titipkan kelembutan hati padamu, jika kadang aku berlaku keras kepadamu, maafkanlah aku. Percayalah, itu hanyalah caraku yang tak ingin melihatmu gagal. Bagi seorang guru sepertiku, kesedihan terdalam adalah saat melihat murid-muridnya menghadapi kgagalan. Maka bahagiakanlah aku dengan keberhasilnmu ...

Pelajaran Sains Hari Ini : Mencuci Kaos Kaki


Bismillah, hari ini mengajar sains kelas 1 SMP dengan tema “Gaya Tarik Antar Partikel : Adhesi dan Kohesi” yang membahas fungsi sabun/deterjen sebagai zat yang dapat menjadi ‘jembatan’ bagi air dan minyak yang pada dasarnya memiliki gaya tarik-menarik partikel sejenisnya lebih besar, atau kita katakan kohesi lebih besar daripada adhesi sehingga air dan minyak tidak bisa bercampur.

Kemudian kami membahas cara kerja sabun dalam membersihkan noda. Noda pakaian sebagian besar disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan debu, sementara itu keringat mengandung minyak. Untuk membuktikan fungsi sabun, saya ajak para siswa untuk mencuci kaos kaki yang sedang mereka kenakan. Perlu diketahui, para siswa masuk kelas dengan melepas sepatu namun tetap mengenakan kaos kaki, sehingga cukup kelihatan kondisi kaos kaki, apakah bersih atau sudah kotor.

Siswa kelas 1 yang berjumlah 25 siswa saya bagi menjadi empat kelompok dengan tugas masing-masing kelompok :
1. Kelompok A : Mencuci kaos kaki tanpa deterjen tanpa disikat, hanya direndam kemudian dikucek tangan
2. Kelompok B : Mencuci kaos kaki dengan deterjen tanpa disikat
3. Kelompok C : Mencuci kaos kaki tanpa deterjen hanya dengan disikat
4. Kelompok D : Mencuci kaos kaki dengan deterjen dan disikat Belum pernah terbayang bagi mereka mencuci tanpa deterjen, namun kali ini mereka harus mencobanya. Setelah dua puluh menit mereka mencuci, akhirnya masing-masing kelompok mempresentasikan hasil cuciannya kemudian membuat laporan hasil praktik kali ini.

Banyak pengalaman yang mereka dapatkan kali ini, seperti :
- Mengapa noda jamur tidak bisa hilang meski menggunakan deterjen dan disikat?
- Mengapa sabun itu licin?
- Kalau hanya direndam menggunakan sabun tanpa dikucek, kenapa nggak bersih juga?
- Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang akhirnya mereka jawab sendiri saat itu. Selain itu, ada seorang siswa yang ternyata selama tinggal di asrama (kurang lebih 3 bulan) belum pernah atau belum bisa mencuci sendiri, sehingga pada kegiatan belajar kali ini mau tidak mau harus mencuci meski awalnya terlihat agak risih.

 “Anak cerdas dapat dilihat dari berapa banyak ia bertanya, bukan hanya berapa banyak ia bisa menjawab soal.”

 
selengkapnya

Dari Sebuah Blog Anak Sekolah : Guru Brengsek


Berikut ini curhat seorang anak sekolah dalam blognya :

-o0o-

Guru Brengsek

beberapa kata dalam tulisan ini agak kasar dan mungkin tidak sesuai dengan anak dibawah umur, meskipun sedapat mungkin saya batasi kata-kata saya itu.
Tau gak kenapa gue tulis judul ginian? ini judul yang mungkin paling memancing kontra, tapi tentu saja akan tetap kuutarakan kebencianku pada guru ini. Guru ini mengajar di beberapa SMA, dan juga mengajar di SMA saya, SMA XXX, nama guru itu XXX, dan yang dapat kuberitahu adalah mata pelajaran yang diajarnya, yaitu seni lukis. ya, saya suka menggambar, saya suka mata pelajaran ini, saya suka seni, tapi hanya jika tanpa orang ini. Guru ini sudah agak tua, dan saya tidak mau tahu berpa umurnya. kehadirannya dalam kelasku cuma bikin banyak siswa jadi lemah, lelah, lunglai, lemes, dan lapar mungkin…
Kalau ada rating guru, dari angka 0 sampai 10, aku mungkin akan memberikan nilai…. heh, bahkan aku tak sudi memberinya nilai. Guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tapi guru yang satu ini bukan pahlawan, tidak punya jasa apapun dan karena itu pantaslah dia tidak memiliki tanda jasa. dia ini memang bukan pahlawan, bahkan kau bisa menjulukinya apa saja, penjahat, penjajah, dsb. Jasa? dia bahkan cuma bikin susah anak murid.

kita beralih pada alasanku membencinya. pertama, angka yang akan diberikannya sebagai penilaian adalah 6 s/d 9, dan bukan hal yang gampang mendapat nilai 8, kalau dia sudah melihat baik adanya, angka yang akan diberi adalah 7. kita sudah kerja dengan penuh semangat mengharapkan angka 8 dan melupakan segala dendam, hasilnya baik, dan lumayan baik jika memang ia mengerti seni, dan apa yang kudapat? nilai 7. 7, 7, dan 7. selalu saja 7. dan sebagai catatan bukan cuma aku. kalau memang hasilnya baik, bagus, dan enak dipandang, apa susahnya sih kasih nilai 8. bikin semangat siswa kan? bukannya demikian, justru bikin sakit hati. Brengsek lo, gue marah nih!
alasan kedua, dia gak mau dengar alasan apapun. bayangkan, aku udah bikin dari rumah PRnya. di sekolah dia coret pekerjaan rumahku dengan alasan dia melihat aku kerja disekolah. ya ampun, aku jelaskan aku tadi cuma bikin kolom tanda tangan untuk penilaian dan menghapus beberapa coretan, itu bukan masalah besar kan??? tapi dasar gengsinya terlalu tinggi tetap aja aku yang disalahin. ada juga kejadian seperti ini, buku gambarku sudah habis. aku lapor dan dia suruh gambar di sehelai kertas gambar. oke, aku kerjakan dan juga sudah diberi nilai. kertas itu lalu aku klip bersama dengan buku baru minggu berikutnya. saat pengambilan nilai, guru itu tidak mau ada yang menggambar dalam lembaran, dia mau di gambar di atas buku. kujelaskan sekali lagi dan dia ingin saya menggambarnya sekali lagi. dan sudahlah, tak kugambar dan kubiarkan nilai untuk gambar itu kosong.
alasan ketiga, mukanya jelek banget, tau gak? tidak ada ekspresi dan tidak enak dilihat. silahkan membayangkan, yang pasti bagi saya mukanya membosankan, bikin mood jatuh, gak semangat menggambar, menjijikkan sometimes. aku gak bilang aku keren2 amat, aku jelek juga kok, tapi aku tetap bisa menilai mukanya orang.
alasan keempat, pilih2 orang. kalo yang pintar disayang, terutama cewek. dan yang kelihatan berandalan dicap jelek. ya ampun itu kan cuma penilaiannya. mungkin memang gayanya berandalan tapi semangat belajarnya tinggi.
alasan kelima, penguasaan kosakata yang minim. berikut kata-kata yang selalu diucapkannya saat mengajar dengan nada dan suara yang persis seperti minggu sebelumnya:
“ya saya baca namanya, bawa prnya kedepan, nanti saya kasih nilai”
“Ya, buka modulnya, no …, jadi kalian bikin yang…”
“kerja pakai tangan bukan pakai mulut”
“jangan ribut, kalau ribut saya kasih minus”
“pr modul nomor … dan kerjakan prnya, sebab kalau ada yang kosong jelek nanti nilainya”
alasan keenam, guru atau salesman? asal kamu tau, guru ini mencetak bukunya sendiri, dan menjualnya kepada siswa, jika tidak dibeli, kalian tahu kelanjutannya. buku dengan kualitas kertas buruk, tipis, buku dengan cover jelek, desain buruk, gambar karyanya sendiri dan sebagian besar hanya gambar hasil kamera atau scanning dan mungkin saja fotokopi dari majalah. orang ini lulusan seni, tapi menyalahgunakan jabatannya untuk hal-hal yang merugikan siswa.
alasan ketujuh, tidak becus jadi guru. Datang ke kelas, memeriksa tugas, memberi tugas, dan akhirnya keluar dari kelas setelah jam pelajarannya selesai. apa ada bagian yang hilang? ya, bagian mengajar. bahkan dia tidak memberikan materi pelajarannya. yang ada dalam modul yang dia buat hanya termuat tugas-tugas. tidak ada penjelasan, tips, atau apapun yang membantu dalam proses menggambar. guru itu juga sering keluar cari angin atau baca koran. guru macam apa itu? kasus lain, saat mengajar perspektif bidang, banyak siswa yang sewaktu smp tidak diajari bahan ini, jadi beberapa bertanya saat ia menjelaskan sedikit tentang hal itu. kata temanku:”Pak kenapa bisa begitu” sambil menunjuk gambar yang dipapan. dan kau tahu apa jawabnya? “karena memang begitu” ini membuktikan orang ini bukan seorang pendidik tapi guru gadungan. sekolah ternyata telah membuang-buang uangnya untuk orang tak becus seperti ini.
alasan kedelapan, Bawa2 masalah ke sekolah/tidak professional. Saya tahu upah/gaji guru sangat kecil dan tidak cukup bila hanya mengajar di satu sekolah. semua dosa di atas menggambarkan betapa tidak professionalnya guru semacam bajingan ini. masalah yang dia pendam, seharusnya tidak dibawa ke sekolah, karena hanya merugikan siswa. siswa sudah membayar uang sekolah yang mahal dan hanya mendapat pendidikan murahan. semoga semua guru yang satu type dengan guru yang saya ceritakan tadi sadar, membenahi dirinya sebisanya. kasihan generasi penerus bangsa yang akan datang nanti. semua dunia, termasuk dunia pendidikan ini selalu saja tak lepas dari hal-hal yang tercela seperti ini.

4 responses to this post.

  1. Posted by Guru setan! on February 18, 2010 at 12:53 am
    Setuju! Guru brengsek gitu mati aj ake laut.
    Di sekolah saya! Ada guru Fisika yag brengsek!
    Bayangkan! Saya diberi tugas khusus! Lalu saya kumpulkan tapi nitip temen sekalian.
    Gak diterima! Katanya pulang sekolah aja ok. pulang sekolah saya datang. Udah tau pulang pulang sibuk eh tuh guru gak ada! ok kasih lah. nah besoknya.. Kebetulan paginya masuk kelas jam 7. Saya tidak sempat mengumpulkan tugasnya. Istirahat 1. Kebetulan ada misa di gereja ( saya agama kristen)
    saya makan terus udah disuruh berangkat. gak sempet ngumpulin lagi.. Istirahat ke-2. GAk sempet lagi.
    guru mau konsultasi ama temen. gak bisa kumpul.
    Nah pulang skola mau kumpul. Dianya marah?! bilang gini.. Kamu itu baru kumpul sekarang saya udah mondar mandir tadi(logat kata brengsek) teman saya datang minta ulangan. Gurunya kan ngomel k gw yaudah. Dipikir gak diterima ok! gw udah mau pulang udah kesel stengah mati. Eh dipanggil ama tuh guru bajingan. diceramahin. ok akhirnya dia suru kumpul.(pulang jadi telat banget) Udah mau kumpul dia bilang”SOALNYA MANA?” kan udah 1 hari udh disimpen dong kertasnya dirumah. dia juga suruh kerjain di kertas lain. eh ngomel lagi bilang( kamu tuh mau apa sih?!) setan bener tuh gru! Pengen dah gw bunuh! Gak pantes guru gitu keluarin aja! kata temen temen “mati aja lo k laut” gitu! saya KESEL banget dendam banget!
  2. Posted by Lilian on March 9, 2010 at 9:36 pm
    stujuu banget!! guru inggris gue brengsekk bngt! udah suka megang2 cwe,tdi siang aja muka gue ditabok pke penghapus papan tulis! brengsek banget sih tuh guru! mana suka ngilangin lembar tugas murid, nyalahin muridnya lagi!
  3. guru MATEMATIKA brengsek bgt ! santet aja guru satu tu, anjrit !
  4. Tega sekali tuh ama guru, dikatain brengsek. Apa nggak takut kualat lu ame pak guru.
-o0o-
---

Sumber :
http://immoz.wordpress.com/2007/06/22/guru-brengsek/
(blog ini telah dinyatakan tidak diupdate/aktif lagi oleh pemiliknya sejak 2009, namun masih bisa diakses)
Memilukan tapi nyata, itulah yang kita rasakan. Catatan anak ini menjadi sebuah cambuk yang melecut di atas dada kita sebagai guru maupun orang tua. Semoga menjadi pelajaran dan silahkan dikritisi dalam hati masing-masing.
selengkapnya

Cahaya Itu Tidak Lagi dari Bintang-bintang


Setelah shalat ashar, sambil rebahan santai di ruang shalat aku ngobrol santai dengan beberapa siswa. Hari ini adalah hari ini adalah pengumuman hasil ujian tertulis yang telah dilaksanakan selama satu pekan lalu. Sebetulnya masih ada ujian praktik selama empat hari kedepan dan ujian Al Qur’an selama satu pekan. Di tempatku mengajar ini, ujian semester merupakan proses yang cukup panjang dan menyita banyak pikiran dan energi ...

Sebut saja namanya Karim, seorang siswa kelas satu yang dikenal cukup kalem menanyakan hasil ujian mata pelajaran sains kepadaku. Aku tidak langsung menjawab, karena aku tahu bahwa beberapa nilai hasil ujiannya tidak sedahsyat semester satu. Sebetulnya tidak menurun, namun hasil yang diraih oleh siswa-siswa lainlah yang meningkat, meski dalam kegiatan pembelajaran harian Karim cukup menonjol, didukung oleh sikapnya yang kalem dan santun. Aku pun tersenyum ...

“Ustadz, kenapa ya hasil ujian kali ini tidak sebagus semester lalu?” tanya Karim.

“Maksudnya?” aku pura-pura belum tahu.

“Kalau dulu saya banyak dapat bintang, sekarang nggak dapat sama sekali,” keluhnya.

Bintang adalah simbol bagi siswa yang berhasil meraih nilai terbaik pada setiap mata pelajaran. Di tempat kami, pengumuman hasil ujian adalah berupa huruf L* jika lulus dengan nilai terbaik, L berarti lulus dan P berarti perlu perbaikan. Jika siswa ingin mengetahui nilainya, bisa langsung menghubungi guru mata pelajaran yang bersangkutan dan hanya bisa mengetahui nilainya sendiri.

Aku pun tersenyum sambil menatap wajahnya yang kurang semangat, “Kalau Karim sendiri sudah tahu penyebabnya?”
Dia agak ragu menjawab ...

“Bukannya saya menyalahkan, Ustadz. Tapi memang saat belajar saya kurang maksimal karena harus mengajari Ahmad (bukan nama sebenarnya, tentang Ahmad lihat di artikel “Semua Remidial!”), kasihan dia Ust,” Karim mulai mengawali ceritanya.

Mendengar cerita tersebut aku ingat, memang di asrama Karim hampir selalu mendampingi Ahmad belajar. Sampai suatu aku mendengar ketika Karim mengajari Ahmad dengan sabar mengulang-ulang penjelasan karena Ahmad belum paham. Bahkan Kepala Asrama sendiri mengakumenjadi paham dengan pelajaran tersebut karena Karim menjelaskan dengan detail sementara Ahmad belum memahaminya, hingga diulang dan diulang terus. Mashaallah.

“Karim ..., yang paling ingin lakukan agar bahagia apa?” tanyaku padanya. Aku tahu, Karim adalah anak yang sangat patuh pada Ibu dan Ayahnya.

“Membuat senang Ummi dan Abi, Ust.,” jawabnya singkat.

“Begitu juga Ustadz. Yang membuat Ustadz bahagia adalah ketika kalian itu berhasil. Berhasil bukan hanya dilihat dari nilai saja. Kalian bisa berperilaku baik, kalian bisa membuat sebuah karya, kalian meningkat prestasi belajarnya. Itulah yang membuat bahagia Ustadz sebagai guru, anak-anaknya berhasil.”

Ia diam termenung.

“Ahmad, teman Karim yang mengalami kesulitan belajar, bagaimana hasil ujian kali ini? Ia banyak peningkatan. Semester lalu ia selalu menjadi yang paling bawah, namun sekarang ia berhasil meningkat,” aku mencoba memberikan pemahaman.
Wajah Karim mulai cerah ...

“Karim, kalau Karim bisa mengajak temannya untuk berhasil, itulah yang namanya prestasi. Prestasi itu bukan berhasil sendirian .... Buat apa berhasil sendiri? Tapi prestasi itu adalah menjadikan orang lain bersama-sama untuk berhasil,” lanjutku.

“Tapi, bagaimana caranya menjelaskan ke Ummi dan Abi jika nilai-nilai saya turun?” sela Karim.
“Prestasi tidak selamanya bisa diukur dengan nilai. Berapa nilai Karim ketika berhasil mengangkat Ahmad? Nggak bisa dinilai. Mungkin ini adalah sejarah pertama Ahmad mendapat nilai 98 untuk sejarah, 82 untuk sains, 72 untuk matematika .... Ini sejarah Ahmad tidak remidial ... . Karimlah yang ada dibalik semua ini dengan pertolongan Allah. Orang tua tidak akan sedih jika bintang-bintang itu tidak Karim raih, karena cahaya itu tidak lagi dari bintang, tapi dari hati Karim.”
selengkapnya

Ketika Semuanya Remidial!


Ujian Kenaikan kelas telah usia hari ini, dan anak-anak sudah menunggu keluarnya hasil ujian dengan berdebar-debar. Sedikit-sedikit ada anak yang datang ke meja kerja menanyakan hasil ujian sains, entah anak kelas satu atau kelas dua, datang bergantian. Sementara guru lain juga sibuk menyiapkan pengumuman hasil ujian yang akan ditempel di papan pengumuman. Sebelumnya sudah aku umumkan bagi para guru untuk memberikan informasi hasil ujian dengan huruf ‘L’ bagi siswa yang lulus atau huruf ‘P’ yang harus mengikuti perbaikan. Bagi siswa yang ingin mengetahui nilainya bisa langsung mengambil pada guru yang bersangkutan.

Beberapa hasil ujian telah ditempel di papan pengumuman, yang tentu disambut reaksi beragam siswa.  Ada yang gembiran karena tidak ada pelajaran yang harus diperbaiki, namun ada juga siswa yang mengeluh terus karena selalu mendapat nilai P untuk beberapa mata pelajaran. Termasuk seorang anak yang memang selalu menjadi topik utama pembicaraan para guru karena kemampuannya yang selalu berada di bawah kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Termasuk di palajaran sains, pelajaran yang aku ampu. Berbagai strategi mengajar telah aku terapkan, namun belum banyak menolong karena memang aku baru menemukan gaya belajarnya yang tepat beberapa bulan sebelum ujian kenaikan kelas. Anak itu pasti merasa selalu kalah.

Sampai akhirnya ia datang padaku dan bertanya,

“Ustadz, saya remidial ya?”

“Hasil ujian Ahmad (sebut saja begitu) bagus lho.. . Memang ada beberapa soal yang harus diperbaiki.  Tapi memang semua teman-teman di kelas harus memperbaiki jawaban-jawaban yang kurang tepat,” jawabku.
Tampaknya ia belum puas dan kembali bertanya, masih dengan wajah yang penuh cemas,”Tapi remidial nggak, Ustadz?”

“Alhamdulillah, kalian tentunya telah belajar keras sebelumnya. Sehingga untuk sains tidak ada yang remidial,” aku kembali meyakinkan.

Wajahnya mulai cerah.

“Ustadz minta tolong semua teman sekelas dikumpulkan di teras kantor, Ustadz akan bagikan kertas ujiannya,” pintaku padanya.

“Ya. Ustadz!” dengan semangat ia menjawabnya dan langsung memanggil teman-temannya.
Tak lama kemudian aku sudah diberitahu Ahmad, bahwa semua temannya telah berkumpul di teras. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya dan aku meminta tolong pada Ahmad untuk membawakan kertas ujiannya.

Aku menemui anak-anak yang telah menanti di teras dengan berbagai ekspresi. Kemudian satu per satu kubagikan kertas ujian pada mereka. Anak-anak bingung ketika melihat kertas ujian itu, karena tidak ada nilai dan hanya coret-coretan pada beberapa jawaban, yang merupakan komentar-komentarku yang aku tuliskan, semisal :
“Caranya sudah betul dan OK! Tapi coba dicek lagi hasil perkaliannya. Itu saja kok!”
“Wahhh ... lengkap banget! Memang sih ada yang terlupa, SATUAN-nya ... Dilengkapi ya!”
“Gambarnya bagus! Nahh ... tinggal diperiksa lagi cara menyelesaikannya ... OK?!”

Dan sebagainya, untuk jawaban-jawaban yang kurang sempurna atau memang salah.
Bagi yang sudah betul, maka aku beri tanda BINTANG.

Tapi ... karena anak-anak belum tahu nilainya, mereka jadi bertanya-tanya atau bahkan protes,

“Ustadz, kok nggak ada nilainya?”

Kemudian aku jelaskan, “Ustadz berterima kasih kepada kalian semua yeng telah mempersiapkan ujian dengan luar biasa! Bahkan katanya Luqman lembur sampai jam setengah dua belas ya? Wahh ... untung ketika tahfidz tidak ngantuk, “ Lukman hanya senyum-senyum.

“Karena kalian telah mempersiapkan dengan sungguh-sungguh tentu hasilnya juga bagus, artinya di pelajaran sains tidak ada remidial. Memang ... Ustadz belum menuliskan nilainya sekarang. Ustadz akan berikan nilai jika kalian telah memperbaiki jawaban kalian yang memang Ustadz telah beri komentar. Yang ada tanda bintangnya tidak perlu diperbaiki...,” lanjutku.

Meskipun sebetulnya ada juga beberapa anak yang memperoleh hasil di bawah kriteria ketuntasan, namun nilai-nilai mereka hanya aku tuliskan dalam rekap di komputerku saja.

Akhirnya anak-anak pun sibuk meneliti jawabannya yang kurang sempurna dan mencoba membetulkan atau menyempurnakan jawaban.

Ahmad juga datang kepadaku untuk menyetorkan jawaban yang telah ia coba perbaiki. Namun aku lihat belum banyak perubahan. Aku coba dengan metode interview, salah satunya untuk pertanyaan tes berikut :

Sebuah balon yang berisi air kemudian disulut dengan api di bawahnya, tidak meletus. Sementara itu balon yang hanya berisi udara jika disulutkan api langsung meletus. Kenapa demikian?

Ketika aku minta untuk membaca soalnya, kemudian aku tanyakan, apakah mengerti dengan soal tersebut? Ia tampak ragu, dan akhirnya menjawab, nggak paham. Ternyata ia tidak mengerti arti ‘disulut’. Ia mengartikan disulut itu ‘ditusuk’ hingga ia kebingungan sendiri.  Maklum ia berasal dari sebuah kampung pelosok di sebuah daerah di Jawa Barat.

Kemudian aku menggambarkan dua buah balon sebagaimana yang ada dalam soal termasuk dengan apinya. Kemudian aku minta Ahmad untuk menjelaskan, kenapa balon yang berisi air tidak meletus sementara itu balon yang hanya berisi udara langsung meletus?

Dengan lancar ia menjelaskan secara lisan dan memang jawabannya tepat! Kemudian aku minta Ahmad untuk menuliskan dalam lembar jawab.

Contoh soal lain
Deni ingin mandi dengan air hangat sebelum berangkat sekolah. Dia ingin mandi dengan air yang bersuhu 40 derajad celcius sebanyak 9 kg. Ia memanaskan air hingga mendidih kemudian mencampurkan dengan air sumur sebanyak 6 kg. Berapakah suhu air sumurnya?

Ternyata ia juga tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan dalam soal. Kemudian kembali aku coba gambarkan dengan tiga buah ember air; air dingin, air panas dan air campuran. Aku minta Ahmad untuk menuliskan massa dan suhu pada masing-masing ember. Dengan metode gambar ini, akhirnya ia bisa menyelesaikan soal dengan tepat.

Dan sebagainya.

Memang ia adalah seorang anak dengan modalitas belajar visual sehingga lebih mudah memahami pelajaran jika divisualisasikan.

Dan akhirnya aku tuliskan angka 8,3 pada lembar ujiannya. Ia berlari dan mengabarkan nilai yang diperoleh dalam pelajaran sains yang tentu baginya sangat istimewa mendapat nilai delapan. Dan dengan bangga ia katakan pada teman-temannya bahwa ia tidak remidial pada pelajaran sains.

Alhamdulillah, aku tidak terburu-buru memvonis Ahmad dengan sebuah nilai yang di bawah standar, karena ia ternyata bisa, dengan cara lain. Ujian adalah discovering ablity, menemukan letak ke-bisa-an anak, bukan mencari ke-tidakbisa-an siswa dalam menjawab soal,  sehingga ujian menjadikan anak kembali percaya diri dengan kemampuannya
selengkapnya

Bukan Kelas Kuburan


Hari ini adalah tatap muka terakhir bagiku untuk mengajar pelajaran sains di kelas dua dan satu, karena pekan depan sudah memasuki ujian kenaikan kelas. Aku tahu, ada kendala hubungan interpersonal di antara beberapa siswa meski mereka tinggal di asrama.  Biasa ... namanya juga anak-anak SMP, dalam pergaulan kadang-kadang ada yang membuat mereka berantem, namun biasanya ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk belajar mengelola kemampuan interpersonal. Namun bagi mereka yang memiliki perasaan sensitif, bukan perkara yang mudah untuk bisa berkomunikasi dengan teman yang pernah menyakitinya. Termasuk dua orang muridku di kelas dua sebut saja Y dan M.

Sudah beberapa hari lalu ada masalah di antara mereka sehingga tidak mau saling bertegur sapa. Masalahnya sih sebetulnya ‘hanya’ kesalahpahaman, namun bagi mereka yang sedang tumbuh remaja menjadi sangat penting. Sehingga misi di tatap muka terakhir ini adalah membangun kekompakan siswa kelas dua, terlebih mereka akan naik kelas 3 di mana pada saat kelas 3 nanti, ada tugas berat bagi mereka yaitu ujian nasional. Keberhasilan kakak kelas mereka yang selalu meraih prestasi menjadi motivasi bagi siswa kelas dua ini untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi sekolah. Namun kekompakan adalah salah satu pilar untuk meraih prestasi itu, demikian aku sering ingatkan pada mereka. Tanpa kekompakan tim, semua akan berjalan sendiri-sendiri dan tentunya tidak bisa meraih tujuan bersama.

Tiga lembar kertas hvs dan tiga buah pulpen aku persiapkan untuk menutup kegiatan pembelajaran sains. Kemudian aku bagi anggota kelas 2 yang berjumlah 17 dalam dua kelompok. Satu kelompok beranggotakan 3 anak sementara kelompok lain masing-masing beranggotakan 7 anak. Masing-masing kelompok adalah developer rumah yang memiliki tugas untuk membuat denah sebuah rumah dan memasarkan rumah tersebut. Untuk dua kelompok yang memiliki anggota tujuh anak, masing-masing berbaris memanjang ke belakang dan satu per satu siswa menuju kertas hvs untuk ‘menyumbangkan’ tiga garis lurus saja. Sementara itu satu kelompok yang terdiri dari 3 siswa berdiskusi untuk membuat denah rumah dan denah tersebut dibuat dari garis lurus saja,tidak boleh garis lengkung. Dan dalam hitungan ketiga, pembuatan desain denah rumah pun dimulai ...

Tampak para siswa berpikir keras ketika mendapat giliran untuk menggambarkan garis, sepertinya tidak mudah untuk membuat denah rumah. Namun diskusi yang cukup ramai terlihat pada kelompok yang hanya terdiri dari tiga siswa. Dan akhirnya waktu untuk membuat desain denah rumah selesai, waktunya mereka untuk beraksi sebagai marketter ...
Seorang marketter dari kelompok 1 membawa denah rumah untuk dipresentasikan dihadapan siswa lain. Namun sebelum presentasi denah rumah, justru terdengar tawa riuh siswa saat melihat denah rumah. Presentasi denah rumah dimulai ...
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.. Bapak-bapak sekalian, saya ingin menawarkan sebuah rumah yang denahnya seperti pada gambar ini ... ,” Abdurrahim yang berperan menjadi marketter memulai presentasi denah rumahnya, “...tapi saya sendiri bingung dengan gambar rumah ini ...” tawa anak-anak pun meledak mendengarnya. Tampak di kertas sebuah gambar seperti  ini :
Komentar miring dari ‘calon pembeli’ pun bermunculan yang membuat kelompok 1 harus menjawab dengan cerdas juga. Namun tak urung, rumah tanpa pintu itu kurang laku, soalnya antara kamar mandi, tempat tidur dan ruang makan tidak ada pintunya.

Kini giliran Ulul menjadi marketter untuk desain rumah yang dibuat oleh kelompok 2. Tak kalah heboh dari desain denah rumah kelompok pertama. Rumah yang hanya berbentuk kotak ini langsung ditanggapi dengan celotehan beraneka ragam, sampai ada yang mengatakan, “Si Ulul jualan kuburan ... .”

Dan terakhir adalah giliran kelompok ke-3 yang diwakili oleh Tezar sebagai marketter-nya. Desain rumah yang dikerjakan oleh tiga siswa ini adalah yang paling lengkap dan rapi. Sampai-sampai ada kolam renang, garasi dan kebun di halaman belakang.

Mendekati waktu pelajaran habis, kami bersama membuat sebuah kesimpulan. Setiap anggota keluarga pasti memiliki keinginan masing-masing yang kadang-kadang berbeda atau bahkan bertentangan dengan anggota keluarga yang lainnya. Di kamar asrama misalnya ada yang ingin kipasnya nyala, sementara yang lainnya ingin kipasnya dimatikan. Atau menjelang tidur, seorang siswa ingin lampunya dimatikan dan ada siswa lain yang ingin dinyalakan karena takut. Nahh ... kuncinya adalah pada komunikasi. Jika siswa mau berbicara dan tidak memendam dalam hati, maka InsyaAllah permasalahan dapat diselesaikan. Akibat siswa saling mendiamkan adalah menjadikan kelasnya sebagai kuburan: sepi, jelek dan menakutkan.

“Kelas kami bukan kelas kuburan!” demikian ikrar siswa yang dilanjutkan dengan saling berpelukan satu sama lain. 

selengkapnya
Artikel sebelumnya >>